Kamis, 12 April 2012

We Are A Champion, My Friend!

Selasa, 10 April 2012 benar-benar hari yang penuh kejutan. Sungguh tidak diduga sebelumnya saya bersama dua orang partner sejati saya, Annisa Anastasya dan Dendi Wahyudi bisa meraih juara kedua dalam Lomba Debat Mahasiswa yang bertemakan “Perbankan Syariah: Sebagai Alternatif Perekonomian di Indonesia.” Great  job guys!


Berawal dari ajakan Dendi yang sedikit memaksa, akhirnya saya bersedia ikut dalam kompetisi yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Ekonomi Pembangunan (Himepa). Dan Alhamdulillah kami ditempatkan sebagai tim yang pro terhadap perbankan syariah. Banyak artikel-artikel berisi berbagai keunggulan perbankan syariah yang bisa menjadi refrensi bagi kami. Kami sangat serius mempersiapkan diri untuk hari itu, walaupun terkadang kami kerap bercanda di tengah-tengah diskusi. Saya membayangkan, bagaimana jika setiap peserta debat diperbolehkan membawa property sebagai alat pendukung debat, misalnya sebatang kayu yang bisa digunakan sewaktu-waktu ketika tim lawan terlalu ngotot mempertahankan argumentasinya. itu gila! Hahaha.


Hanya tiga hari waktu yang kami miliki untuk mempersiapkan diri. Mulai dari pencarian materi, diskusi dengan  senior kami yang paham tentang perbankan syariah, hingga latihan debat dengan tim lain yang mendapat bagian kontra. Banyak fakta-fakta menarik yang kami ketahui tentang perbankan syariah selama masa persiapan itu. Misalnya, ternyata perbankan syariah justru melaju pesat di beberapa Negara dengan populasi penduduk muslim sedikit. Seperti di Inggris dan Australia. Mereka tidak risih dengan embel-embel Islam dalam perbankan syariah. Mereka melihat keadilah yang ada dalam system ini, dan bahkan perbankan syariah yang ada di negara-negara lain diberi nama ‘Islamic Banking’. Jika bukan karena kompetisi ini, belum tentu saya begitu bersemangat mencari tahu tentang perbankan syariah. 


Tidak hanya ikhtiar, kami selalu diingatkan oleh Annisa untuk berdo’a, meminta maaf kepada kedua orang tua, bersedekah, hingga solat dhuha. Semua itu kami lakukan agar diberi kemudahan dan memperoleh hasil yang terbaik. 


Hingga tiba saatnya bagi kami untuk bertempur. Begitu banyak halangan yang kami hadapi. Mulai dari pecah ban, terlambat hadir, hingga hampir didiskualifikasi. Namun kami bisa melewati babak penyisihan, semi final, dan akhirnya bertanding di final. Lawan kami saat final adalah mahasiswa kedokteran. Posisi dibalik, kami kontra dan tim lawan yang sebelumnya kontra menjadi pro. Ini menjadi sedikit sulit, karena sudah tertanam di kerangka fikir kami tentang ke-pro-an kami terhadap perbankan syariah. Namun tidak ada kesulitan yang tidak bisa dilalui selagi mau berusaha, is it right? 


Akhirnya kami keluar sebagai runner up dengan selisih perolehan suara yang sangat mengejutkan, satu. Hahaha. Never mind, it was first tried. Semoga Alloh memberikan kesempatan untuk menjadi juara pertama di kompetisi berikutnya.


Dan ternyata kesulitan yang kami alami di awal adalah seni sebuah kemenangan. Tidak ada kemenangan yang indah tanpa perjuangan, keringat, dan air mata. Satu hal lagi, ini adalah keajaiban dhuha,  ridho kedua orang tua, dan sedekah. 

4 komentar:

  1. hmm,,
    semoga keyakinan itu selalu ada dihati kita semua,, :D

    BalasHapus
  2. Hebat, buat kalian.....


    eva: gaya bahasa menulismu baik, lanjutkan.

    BalasHapus
  3. Thanks Saut sudah mampir dan memberi masukan. Semangat skripsinya :)

    BalasHapus